Petani Singkong di Tanjabtim Menjerit, Harga di Pabrik hanya Rp 500 per Kilo
Selasa, 21 Februari 2017 | 12:18:12 WIB | Dibaca: 418 Kali




Pabrik Tapioka di Kabupaten Tanjabtim. Di Pabrik Ini Para Petani Singkong Menjual Hasil Panennya.(jun/IT)


MUARA SABAK – Petani singkong di Kabupaten Tanjabtim harus mengelus dada. Betapa tidak, enam bulan terakhir harga jual ubi kayu ini merosot hingga Rp 500 per kilogram. Harga ini adalah harga yang ditetapkan penampung besar di pabrik.

Dampaknya, puluhan hektare ubi kayu dibiarkan terlantar, lantaran harga jual di tingkat penampung anjlok.

“Harga tersebut sama saja kita menjadi kuli di kebun sendiri. Seperti buah simalakama, jika dipanen jelas rugi sebaliknya tidak dipanen sayang,” kata Dading Achmadi salah seorang petani ubi di Desa Lambur 1 Kecamatan Sabak Timur Kabupaten Tanjabtim.

Kata Dading, satu hektar tanaman singkong miliknya yang telah siap panen terpaksa dibiarkan. “Habis dengan harga segitu kita tidak dapat apa-apa kecuali hanya dapat capeknya saja. Yang pasti merugilah,” timpal Dading dengan nada lesu.

Menurut dia, jika dihitung luasan tanaman singkong di Desa Lambur, bisa mencapai puluhan hektare. Dengan kondisi harga yang tidak menguntungkan petani, tanaman ubi kayu ini ditelantarkan petani.

Hal yang sama juga menimpa petani ubi kayu di Desa  Jati  Mulyo Kecamatan Dendang.  “Harga sekarang tidak berpihak ke petani. Semua pada mengeluh kemana hasil panen mau dijual. Kalau Rp 500/kg sampai di pabrik jelas petani tidak sanggup,” ujar Kepala Desa Jati Mulyo, Suyoto.(*)

Penulis : Junaidi

Editor   : Andri Damanik

 





Berikan Komentar via Facebook :