MEMBANGUN ASA DI PANTAI TIMUR PROVINSI JAMBI
Impian Kualatungkal jadi Kawasan Wisata Bahari Masa Depan
Senin, 01 Agustus 2016 | 11:16:32 WIB | Dibaca: 1728 Kali




Fenomena Kala Senja di Jembatan Pendesterian Kota Kualatungkal.(Musdalifah/IT)



Senja hampir tiba, membayang  semburat merah jingga di langit di Kota Pesisir itu. Warga yang menghabiskan  waktu luangnya belum beranjak pergi dari pelataran jembatan pedestrian yang selesai dibangun tahun lalu oleh  pemerintah daerah ini dalam dua kali tahun anggaran (2014-2015). Lokasi ini menjadi tempat rekreasi gratis bagi warga  menikmati  panorama laut tanpa harus menaiki kapal layar mengarungi samudera raya.

Ditulis : Musdalifah Rachim, Kualatungkal

DI SINI suasana bahari kental terasa, di perairan terlihat jelas belasan nelayan dengan perahu-perahunya atau dalam bahasa setempat disebut perahu pompong, bentuk sederhananya adalah perahu tradisional  yang dilengkapi mesin guna menggerakkan perahu ini tanpa  dayung, konvoi  pulang dari mencari rezeki dari laut hari itu.

Kapal-kapal niaga melempar sauh di perairan ini juga, keindahan sore itu mungkin belum lengkap tergambarkan dalam ruang imajinasi seorang penyair jika tidak terdeskripsikan pula kehadiran kawanan elang laut yang mengitari udara di petang itu. Kadang menukik  memangsa ikan-ikan kecil yang menyembul di permukaan air laut bahkan ruang udara di sekitarnya dipenuhi pula berjenis-jenis burung laut berterbangan tidak beraturan dengan pasangannya. Mungkin mereka tengah bercinta di udara dalam kesenduan remang senja itu.   

Gambaran alam yang tergambarkan oleh saya itu,persisnya di pertengahan Juli lalu. Saya sengaja membiarkan diri tenggelam dalam keindahan alam berpanorama laut dengan menikmati suasana senja, melihat mentari tenggelam di cakrawala, di atas langit  Kota Pesisir ini,  menghabiskan waktu petang hingga adzan magrib datang baru saya beranjak meninggalkan tempat yang mulai menjadi lokasi rekreasi sore favorit masyarakat Kualatungkal.

Hati saya terus membisikkan kalimat-kalimat pujian pada sang Pencipta Alam, Allah SWT. “Subhanallah, indahnya senja ini, ciptaan Mu wahai Allah nan Maha Agung,” ucap saya dihati berkali-kali.

Jembatan pendesterian ini dibangun di atas tepi laut  Kota Kualatungkal pada tahun 2014-2015 itu agaknya bakal menjadi ikon kota ini dengan ramainya pengunjung setiap hari terutama di sore hari warga menikmati sunset di sini, “Kota Tepian Air” menjadi julukan baru bagi kota ini setelah keberadaan bangunan jembatan yang semula diniatkan oleh pemerintah daerah membangun insfastrukur penahan ombak yang didesain menjadi jembatan dan dilengkapi sarana dan prasarana lain yang terlihat cantik dipandang dari atas muara laut menuju Pelabuhan Kualatungkal.

Malam hari, keindahan makin terasa saat puluhan tiang-tiang lampu-lampu memancarkan cahaya gemerlap, air Sungai Pengabuan mengalir tenang menuju hulu menambah pesona bahari berada di tepian jembatan. Warga Kualatungkal yang senja itu belum beranjak dari pelataran jembatan semakin tersihir oleh pesona keremangan senja.

Berikut cacatan saya tentang harapan menjadikan Tanjungjabung Barat (Kota Kualatungkal kawasan wisata bahari masa depan).

Kota Kualatungkal merupakan ibukota Kabupaten Tanjungjabung Barat, wilayah ini terletak di wilayah paling timur Provinsi Jambi, berjarak 125 kilometer dari Kota Jambi. Kabupaten Tanjungjabung Barat meliputi wilayah daratan dan lautan dengan keseluruhan luas wilayahnya  5.009,82 kilometer persegi dan terbagi dalam 13 kecamatan. Kota Kualatungkal sendiri berada dalam Kecamatan Tungkal Ilir.

Pemerintah Kabupaten Tanjungjabung Barat telah lama menjadikan Kecamatan Tungkal Ilir yang berada di atas permukaan laut itu sebagai kawasan strategis yang kelak akan dikembangkan sebagai Kawasan Pariwisata Terpadu dengan segala potensi dan sumber daya alam yang akan dikembangkan di sini. Sebelumnya pada dekade tahun 1990-an, sebelum dimekarkan menjadi dua Kabupaten, hanya dikenal sebagai kabupaten Tanjung Jabung namun setelah dilakukan pemekaran wilayah terbagi menjadi Kabupaten Tanjungjabung Barat dan Kabupaten Tanjungjabung Timur yang kedua wilayah ini merupakan kawasan Pantai Timur Provinsi Jambi, memiliki sumberdaya alam yang besar terutama minyak dan gas bumi.

Menghadapi pasar bebas ASEAN (MEA-Masyarakat Ekonomi ASEAN) saat ini, Kabupaten Tanjungjabung Barat menapaki langkah mantap menuju  kawasan setretegis perdagangan global tersebut, perekonomian masyarakat Tanjungjabung Barat yang berkembang baik dengan kedekatan melalui jalur laut ke negeri tetangga Malaysia dan Singapura menjadi harapan besar untuk tumbuh berkembangnya wilayah ini menjadi kawasan wisata bahari yang setrategis.

Semua ini tak lepas dari peran Pemerintah Provinsi Jambi yang memiliki niat yang tulus dan mantap membangun Tanjungjabung Barat ke arah tersebut. Sebab sebagai kawasan pantai timur yang ramai menjadi jalur niaga antar pulau hingga perdagangan internasional hal ini sudah lama terjadi ke dalam sistem jalur perdagangan yang telah ada sebelumnya.

Dalam keseharian, denyut nadi Kota Kualatungkal mengidentifikasikan diri sebagai Kota transit, perpindahan barang dan manusia menuju berbagai tempat melalui jalur pelayaran laut yang ditempuh hingga ke jalur pelayaran laut Internasional telah berlangsung sejak dahulu.

Bahkan diawal tahun 1990-an saat dibuka jalur pelayaran umum dari dan menuju Pulau Batam dan sekitarnya (Tanjung Pinang dan Tanjung Balai) dengan kapal feri cepat yang beroperasional setiap hari melayani pemberangkatan menuju Pulau Batam dan pulau-pulau lainnya di kawasan pantai timur Kota Kualatungkal  menjadi pelabuhan penting karena menjadi harapan banyak orang untuk berkunjung ke Pulau Batam dengan cara cepat dan murah (saat itu ongkos pesawat masih mahal).

Namun sayangnya, kini setelah dinilai biaya pesawat menuju Batam tidak lagi mahal, orang yang akan bepergian ke Batam tidak lagi menjadikan Kota Kualatungkal tempat transit, sehingga biro perjalanan laut yang membuka keagenan di sini mulai banyak menutup usahanya karena sepinya penumpang. Pelayaran laut dengan kapal fery dan speedtboat yang ditempuh selama 7 jam cukup meletihkan dengan ongkos hampir mencapai Rp 500 ribu satu kali pemberangkatan (bukan PP). Faktor ini, membuat orang mulai berpikir dua kali untuk datang ke sini, meskipun daerah ini menyediakan kapal cepat untuk transit ke Batam.

Fakta hari ini, situasi tidak seperti dahulu, warga dari Pulau Jawa transit di Kualatungkal guna menuju Batam lazim dilakukan para perantau dari Jawa untuk kemudian menyeberang ke Malaysia dan Singapore sebagi TKW/TKI.

Wilayah Tanjungjabung Barat  yang bertetangga dengan Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau telah terjalin hubungan baik antar penduduk dan pemerintahan kedua daerah ini sejak puluhan tahun lalu. Keberadaan jalur laut yang menghubungkan kecamatan-kecamatan antar kedua wilayah ini tidak menutup sama sekali rantai isolir, meski akses darat belum terbuka luas hingga kini.

Memasuki periode tahun 2000-an, kedua pemerintah wilayah ini menjalin hubungan dengan membangun insfrastruktur, melancarkan akses dua daerah bertentangga ini, yang tentunya memiliki kondisi geografis daerah tidak jauh berbeda.

Hubungan perlintasan antar penduduk  kedua wilayah bergeografis pesisir ini terjalin baik hingga pemenuhan kebutuhan pangan dan perniagaan membentuk kemitraan yang saling menguntungkan perekonomian masyarakat di dua daerah pesisir ini.

Sebut saja Kecamatan Tanah Merah Kabupaten Indragiri Hilir (Riau) penduduk wilayah ini  lebih mudah bepergian menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang melalui Bandar Udara Sultan Thaha Syaifudin (STS) di Kota Jambi dibanding harus ke Pekan Baru (Riau), ibukota Provinsi Riau yang jarak tempuhnya lebih kurang 7 hingga 8 jam dengan perjalanan darat dari Kota Tembilahan (ibukota Kabupaten Indragiri Hilir). Padahal jika warga Kecamatan Tanah Merah ingin bepergian ke Jakarta cukup membutuhkan waktu 45 menit dengan speedboat ke Kota Kualatungkal dan melanjutkan perjalanan darat ke Jambi selama 3 jam dan tiba di Jambi langsung mengikuti jadwal penerbangan ke Jakarta tanpa perlu terlambat sesuai jadwal penerbangan yang dibutuhkan.

Dari hal tersebut diatas, menjadi gambaran umum ramainya Kota Kualatungkal(kecamatan Tungkal Ilir) sebagai kota transit dan pelintasan bagi penduduk di wilayah-wilayah pesisir Provinsi Riau. Jika kelak terbangun kawasan wisata bahari terpadu yang direncana pemerintah daerah ini tentulah nama Kota Kualatungkal akan semakin berkibar dimasa  depan, dengan tulisan besar di pintu gerbangnya “Anda Memasuki Kawasan Wisata Bahari Kualatungkal,”. Itu mimpi saya, semoga menjadi kenyataan, amiin. (*)

 

Wisata Bahari Pesisir Pantai

PENGEMBANGAN wisata bahari di Tanjungjabung Barat telah menjadi tujuan pemerintah daerah ini dalam aspek-aspek pembangunan daerah secara keseluruhan dan berbagai bidang. Menurut sumber data yang diterbitkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal (Bappemdal) bahwa telah dilakukan penyusunan Masterplan Kawasan Pariwisata Pangkal Babu di Kabupaten Tanjungjabung Barat yang mengacu pada hasil studi kelayakan Kawasan Pariwisata tahun 2013, sehingga dihasilkan rencana lokasi pariwisata Pangkal Babu berada di Kecamatan Tungkal Ilir.

Potensi wisata bahari yang dimiliki Kabupaten Tanjungjabung Barat telah dikembangkan oleh pemerintah daerah ini, dapat diketahui dimana setiap tahun di bulan Agustus sebagai bagian dari pengembangan wisata bahari digelar di Kota Kualatungkal Festival Peduli Nelayan, Lomba Memancing, Lomba Pompong (perahu bermesin) dan lomba menangkap ikan cempakul.

Saat berkendaraan speedboat menyusuri pesisir laut Tanjungjabung Barat sepanjang jalur  12 kilometer akan tersaksikan keindahan alam bibir pantai yang dikepung hutan mangrove. Fenomena ini tentu berbeda jauh dengan wilayah pesisir lain di Indonesia yang identik dengan lautan pasir.

Namun saat air surut, tanah berlumpur dan berawah yang cepat terlihat, barisan tanaman mangrove justru tumbuh sumbur. Dalam situasi tanah yang demikian, keanekaragaman mangrove diantaranya api-api (Avicennia sp), bakau ( rhizophora sp), pidada (sonneratia sp), tancang (bruguiera sp),  mentigi (ceriops sp) teruntum (lumnitzera sp), buta-buta (excoecaria sp) nyirih (xylocarpus sp), perpat kecil (aegiceros sp), perpat (scyphyphora sp) dan nipah (nypa sp) dan lain-lainnya tumbuh subur di sepanjang bibir pantai dengan luas 200 hektare di kelola dalam pengembangan ekologi wisata hutan mangrove.

Komponen pendukung terbangunnya Kota Kualatungkal menjadi kawasan wisata bahari yang ramai di pantai Timur Provinsi Jambi sudah sangat jelas, tinggal lagi keseriusan Pemerintah Kabupaten Tanjungjabung Barat dan Provinsi Jambi membangun kawasan yang setrategis apalagi sebagai pintu gerbang Provinsi Jambi mencapai jalur pelayaran Internasional. Namun sayangnya pemerintah Provinsi Jambi pada periode sebelumnya tidak begitu berminat membangun wilayah Tanjungjabung Barat sebagai pintu gerbang jalur perdagangan antar negara ASEAN, terbukti dengan tidak adanya rencana membangun Pelabuhan Samudera di Kualatungkal, bangunan pelabuhan roro yang berada di Parit VII Desa Tungkal I Kecamatan Tungkal Ilir hampir sepuluh tahun terbengkalai tidak ada kegiatan yang berlangsung di sini karena tidak mendapat “restu” untuk dioperasionalkan.  

Di pihak lain, Pemerintah Kabupaten Tanjungjabung Barat telah berkali-kali meminta perhatian pemerintah pusat agar pembangunan insfrastruktur Pelabuhan Roro tersebut dilanjutkan. Namun pemerintah Provinsi Jambi lebih tertarik mengembangkan Kabupaten Tanjungjabung Timur menjadi jalur Pelabuhan Samudera sehingga berbagai insfrastruktur untuk itu telah dibangun di sana, sebagai konsentrasi akses menuju Pelabuhan Ujung Jabung, Tanjungjabung Timur.

Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Pusat mencurahkan sedikit perhatiannya kepada Kota Kualatungkal dengan seluruh potensi yang dimiliki wilayahnya agar dapat dikembangan menjadi Kawasan Wisata Bahari setrategis masa depan. (***)

Editor : Andri Damanik

 

 

 





Berikan Komentar via Facebook :