Menelisik Pembuatan Udang Papay, Hasil Laut Kabupaten Tanjabbar
Pengolahan Udang Papay Alternatif Pendongkrak Ekonomi Nelayan
Jumat, 10 Agustus 2018 | 15:26:16 WIB | Dibaca: 443 Kali




Ramla (41), Salah Satu Pengolah Udang Papay, Di Parit V, Kampung Nelayan, Kabupaten Tanjab Barat.(IT)



Udang Rebon atau lebih dikenal sebagai udang papay (halus kering) salah satu hasil laut Tanjabbar yang dikelola nelayan. Proses pembuatannya tidaklah sulit, hanya mengandalkan panas matahari, dengan pengeringan seadanya, siap dijual hingga ke Pulau Jawa dan pasar lokal di Provinsi Jambi.
Belakangan, produksi udang papay menurun, dipengaruhi cuaca sehingga hasil tangkap udang tak seberapa.

ANDRI DAMANIK - infotanjab.com

Di Parit V Kampung Nelayan Kabupaten Tanjab Barat, sentra pengolahan hasil laut jadi bisnis tambahan para nelayan. Mulai dari ikan asin, kerupuk dan udang papay, diolah di sini. Pengolahan hasil laut ini adalah cara nelayan menambah omset demi mempertahankan ekonomi yang kian anjlok.

Data yang diperoleh infotanjab.com, ada belasan rumah tangga di Parit V Kampung Nelayan mengolah udang papay untuk dijual ke tauke. Dengan harga jual Rp 20 ribu per kilonya, udang papay ini sebenarnya bisnis yang menjanjikan.

Produksi udang papay ini tergantung dengan hasil tangkap dan cuaca panas. Jika musim panas, maka penjemuran udang popay berjalan lancar. Begitu juga dengan pengaruh cuaca di laut, jadi penentu hasil tangkapan nelayan, terutama udang rebon ini.

Ramla (41) salah satu pengolah udang papay di Parit V Kampung Nelayan, mengakui sudah menekuni usaha ini sejak 1988 silam. Mulai dengan mengambil upah dari tauke, akhirnya ibu lima anak ini berhasil mandiri, mengolah sendiri, dengan modal seadanya.

Ramla menuturkan, usaha udang papay gampang-gampang sulit. Jika cuaca bagus, maka produksi berjalan lancar. Tapi jika musim penghujan, akan ada biaya tambahan.

"Kalau musim hujan, terpaksa udang yang tidak kering kita jemur disimpan lagi, dan didinginkan dengan es balok. Ada biaya lagi. Begitu cuaca panas, baru kita jemur lagi. Begitu juga pengaruh cuaca di laut, hasil tangkapan juga kurang, otomatis produksi berkurang," ujar Ramla.

Ramlah merincikan, rata-rata produksi per hari bisa mencapai 30 hingga 50 kilogram. Namun jika cuaca tak mendukung, tak menentu, bisa kurang dari 30 kilogram.

Udang halus yang didapat di laut, setelah dijemur nyusut 50 persen beratnya. "Kalau kita dapat 50 kilo udang basahnya, kalau sudah dijemur bisa nyusut 50 persen lebih. Udang yang sudah siap jemur, per karungnya paling 15-18 kilogram," ungkapnya.

Bukan sekedar menghitung untung penjualan, pengolah udang papay juga mempekerjakan tenaga penjemur. Per kilonya diupah Rp 2.000.

"Tukang jemur kita upah Rp 2.000 per kilo. Sudah itu, biaya operasional mengambil udang di laut, paling tidak perlu 10 liter solar," kata istri Sulek ini.

Setelah dijemur, lanjut Ramla, udang papay ini langsung diantar ke tauke, jangan berlama-lama disimpan, karena warna udang akan berubah. Jika harga stabil, harga papay dibeli tauke sebesar Rp 20 ribu. Jika musim penghujan, bisa anjlok sampai Rp 10 ribu per kilo.

Dari penampung, ternyata udang papay ini dijual lagi hingga ke Pulau Jawa. "Dari tauke dijual lagi. Ada penampungnya di Tungkal ini. Kadang pakai truk bawanya ke Jawa," tandas Ramla.

Ramla mengakui, meski pengolahan udang papay gampang-gampang sulit, puluhan tahun menekuni usaha ini, dia bisa berdikari, mendongkrak perekonomian. Walaupun lantai jemur yang ada, dibangun sendiri.

"Pernah sih ngusulkan bantuan lantai jemur, tapi belum dapat. Biaya bangun lantai jemur ini bisa sepuluh jutaan," ujarnya.

Jika produksi bertambah, Ramla akui sempat menjemur udangnya di jalan. "Tempat gak ada lagi, terpaksa jemur di jalan, pakai jaring," ujarnya menambahkan.

Vina, penjemur udang papay ditemui infotanjab.com, Jumat siang (10/8) mengaku menerima upah penjemuran sebesar Rp 15 ribu per 10 kilo. Dalam sehari, udang yang dijemur tak menentu, tergantung cuaca.

"Iya bisa sampai 16 jaring kita jemur. Ya sepuluh kilogram, bisa juga lebih. Upahnya ya segitu. Kadang bagi dua, karena berdua jemurnya," kata Vina yang tinggal di Parit V, RT 10 Kampung Nelayan.

Sulitnya ekonomi saat ini, Vina tetap menekuni profesi ini. "Mau kerja apa lagi, jaman sekarang agak sulit. Kebutuhan hidup, anak sekolah, harus dipenuhi," ujar Vina.

Pengolahan udang papay, ternyata memberikan dampak positif bagi warga di Kampung Nelayan, terutama dalam menambah penghasilan nelayan di saat hasil tangkap menurun drastis.(***)

 

 





Berikan Komentar via Facebook :