Daya Tarik Panorama Alam sampai Wisata Religius
Pulau Berhala Tak Terpisahkan dari Warga Provinsi Jambi
Selasa, 21 Agustus 2018 | 11:40:17 WIB | Dibaca: 1393 Kali




Keindahan Pulau Berhala di Kala Senja. Pulau di Ujung Selat Malaka Ini Menjadi Idaman Warga Jambi.(IT)



Angin tenggara berhembus kian mesra. Membelah alur laut, menjadikan ayunan ombak menjulang. Tak khawatir terjungkal, kemudi perahu tetap digerakkan. Tak berani melawan arus, tapi berusaha memecah ombak yang hampir membendung.

ANDRI DAMANIK – INFOTANJAB.COM

Begitulah pemandangan mengasyikkan menjelang senja, 15 Agustus 2018 silam. Dari Nipah Panjang hanya 2,5 jam, menggunakan kapal motor (trawl mini). Ayunan ombak diterpa angin tenggara, menjadikan perjalanan ke Pulau Berhala lebih menantang.

Berhala Island, salah satu objek wisata yang tak pernah luput dari pandangan. Di hari-hari biasa, paling tidak setiap minggu ada yang bertandang ke pulau yang memiliki luas 2,5 hektare ini. Pengunjung berdatangan dari mana-mana, baik di lingkungan Provinsi Jambi maupun luar Provinsi Jambi.

Di pulau kecil yang berada di ujung Selat Malaka ini, lebih dari 40 Kepala Keluarga yang berdiam. Ada tiga kampung disini, Kampung Lama (Riau), Kampung Tengah dan Kampung Jambi. Namun, perbedaan etnis Jambi dan Riau tak lagi dirisaukan. Mereka telah berbaur, saling mengisi dan menjaga peradaban demi kelestarian pulau.

Berhala Desanya, masuk dalam administrasi Kecamatan Singkep Selatan, Kabupaten Lingga, Provinsi Riau. Jelas terpampang, di desa ini.

Mulai dari keelokan pantai dengan pasir putihnya, bebatuan alam yang sakral, pesona habitat laut, bahkan wisata religius, dengan mendatangi Makam Raja Jambi, Paduko Berhala atau lebih dikenal Ahmad Barus II, juga menjadi tujuan para pengunjung datang ke pulau ini.

Dari penusuran infotanjab.com, di pulau ini sudah dibangun Pelabuhan Baru, lokasinya di kampung lama. Kapal motor yang membawa wisatawan lebih aman merapat ke jembatan panjang ini, meski masih ada perpanjangan pekerjaan. Di pelabuhan baru ini, gelombang lebih tenang, dan tak menyulitkan penumpang berlabuh di sini.

Ternyata, dermaga baru ini dipersiapkan untuk bertambatnya kapal roro, termasuk dari Kualatungkal menuju singkep.

“Katanya, kalau sudah selesai, nanti kapal roro yang dari Tungkal berlabuh di sini, sebelum ke Dabo- Singkep,” kata Edy, pengelola wisata Berhala asal Jambi ini.

Sementara, dermaga lama yang berada di seberang Kampung Jambi, tak terpakai. Yang ada tinggal bongkahan beton dan besi. “Dermaga lama itu gak dipakai lagi, dulu kapal memang pernah berlabuh disitu, termasuk kapal Tungkal samudera, waktu Pak Usman ke sini, bertambatnya di dermaga lama,” ujar Edy.

Edy (50) sendiri merasa kerasan di pulau ini. Sekitar 13 tahun, dia telah bermukim disini. Anak dan cucunya pun sudah menjadi warga pulau berhala, dan sekarang masuk dalam administrasi Singkep Selatan.

Waktu pulau ini berstatus quo (masih dalam perebutan Jambi dan Riau), Edy ditunjuk sebagai Kadus di Kampung Jambi. Sekarang, dia tak merisaukan hal itu, dan telah berbaur dengan warga Riau di kampung sebelah. Silaturahmi antar kampung di Desa Berhala tak terpisahkan lagi, wajar saja pulau ini digelar Serumpun Timur Serumpun Indonesia.

Edy menuturkan, dirinya sempat mengusulkan ke Pemerintah Tanjabtim, untuk pengadaan kapal, yang standbye di Berhala maupun di Nipah Panjang, dikelola pemerintah. Hanya saja usulan itu belum direstui.

“Memang saya dulu pernah mengusulkan pengadaan kapal, kebetulan ada kapal baru di Tanjabtim, bisa dimanfaatkan untuk armada wisata warga Jambi dan sekitarnya jika bepergian ke berhala. Satu standbye di Pulau Berhala, satu lagi di Nipah Panjang. Bisa juga untuk income daerah, tapi belum disetujui,” ujar Edy.

Lanjut Edy, para pengunjung pun akhirnya menggunakan jasa trawl mini ataupun speedboat bermesin double, jika bepergian ke berhala. Ada yang melewati Jalur Nipah, ataupun Kampung Laut.

“Kalau dari Tungkal Ada juga rutenya, mereka tinggal runding dan carter boat. Sampai di sini, kita siapkan penginapan dan menu makanan. Cuma kita sarankan, agar mencarter boat yang biasa melewati pulau ini. Karena cuaca sekarang lagi tak menentu, lagi musim tenggara. Nanti tenangnya, di bulan Oktober,” kata Edy.

Selain itu, secara diam-diam ada sejumlah investor Jambi yang telah membeli sebidang tanah di pulau ini. Nantinya, akan dibangun vila maupun hotel di lokasi ini.

“Ada pengusaha Jambi yang beli tanah disini, ada dua orang,” ujar Iyan, anak Edy yang kerab menemani wisatawan asal Jambi berpetualang di Pulau ini.

Ikan Teri Andalan Berhala

Iyan, warga di Kampung Jambi, Desa Berhala, Singkep Selatan, menuturkan, selain mengolah wisata berhala, omset utama dari warga di Berhala adalah menjual ikan teri.

Biasanya, di Oktober, air laut mengering, warga di pulau ini kebanjiran omset, mengumpul ikan teri halus, lalu dijual.

“Bisa sampai berton-ton, kalau lagi panen. Itu omset tahunan warga di sini,” kata bapak beranak satu itu.

Di musim teri ini, para pengunjung juga banyak berdatangan, sampil menikmati panorama alam berhala, yang khas dengan pasir putihnya.

Selepas ini, sekitar Desember sampai Januari, wisata berhala ditutup, lantaran cuaca ekstrim. Di musim ini, gelombang laut bisa setinggi tiga meter.

“Januari ditutup wisata, karena ombak besar. Baru nanti di bulan maret dibuka lagi,” ujarnya.

Belanja ke Nipah Panjang

Meski masuk dalam administrasi Provinsi Riau, warga di Pulau Berhala lebih memilih belanja bahan pokok ke Sadu ataupun ke Nipah Panjang, ketimbang ke Pulau Singkep (dabo).

Pasalnya, jarak tempuh ke Kabupaten Tanjabtim lebih dekat ketimbang ke Dabo.

“Kalau ke Dabo bisa empat jam-an dari sini (pulau berhala,red), kalau ke nipah dua jam-an, tergantung ombak juga. Tapi warga di sini sudah biasa, dengan ombak, yang penting bukan saat cuaca ekstrim,” ujarnya.

Biasanya, warga disini membeli bahan pokok seperti beras dan sebagainya ke Nipah Panjang.

Minim Fasilitas Pendidikan

Di pulau kecil ini, sarana pendidikan cukup minim. Hanya ada satu sekolah dasar di pulau ini, itupun muridnya berjumlah belasan orang.

Pantauan infotanjab.com, pada jam belajar, anak SD di kampung ini berkeliaran, dengan berseragam sekolah. Minimnya jumlah siswa di sekolah ini, sesuai dengan jumlah penduduk yang minim.

“Iya bang, yang sekolah paling belasan. Semua kelas terisi disini, dari kelas 1 sampai kelas enam. Tapi satu kelas ada dua orang dan tiga orang. Kalau SMP dan SMA, banyak sekolahnya ke luar, ke Sadu atau ke Nipah,” ujar dia.(***)

 





Berikan Komentar via Facebook :