Harga Karet Anjlok, Warga Banting Setir jadi Pendulang Emas
Rabu, 04 September 2019 | 00:11:02 WIB | Dibaca: 253 Kali




Pendulang Emas Tradisional di Desa Pulau Buayo Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun.(*/Hendri/IT)



SAROLANGUN - Anjloknya harga komoditi karet di Kabupaten Sarolangun berdampak pada perekonomian masyarakat. Karet yang hanya dihargai Rp 6.000 untuk per kilonya tak mampu memenuhi kebutuhan petani sehari-hari.

Hal itu dirasakan warga Desa Pulau Buayo Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun yang terpaksa banting setir, dan mencari pekarjaan lain sebagai pendulang emas tradisional.

Sakinah salah satu warga mengaku harus menyelam hingga ke dasar sungai, untuk mengambil pasir yang kemudian didulang dengan peralatan seadanya.

"Iya mau gimana lagi bg, kalo dak kayak gini kami dak biso beli beras, dan bayar keperluan sekolah anak," ungkap sakinah Selasa, (3/9/19).

Dirinya juga mengatakan, dalam satu hari dengan mendulang emas, hanya mampu memperoleh Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu per harinya, namun tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa.

"Kalau lagi ada rezeki kadang dalam sehari bisa dapat uang Rp 90.000, dari mendulang," katanya lagi.

Warga berharap pemerintah menanggapi serius harga dengan anjloknya harga komoditi karet yang menjadi mata pencarian kebanyakan warga di Kabupaten Sarolangun.(*/Hendri)

Editor : It Redaksi





Berikan Komentar via Facebook :